GORONTALO.WAHANANEWS.CO, Kota Gorontalo - Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie meminta para ahli gizi program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyiapkan sedikitnya 30 variasi menu makanan.
"Variasi menu sangat penting, agar peserta didik tidak merasa bosan dan tetap antusias menantikan makanan yang disajikan setiap hari di sekolah," kata Idah di Gorontalo, Kamis (7/5/2026).
Baca Juga:
Puluhan Bangunan Gedung di Pagar Alam Belum Kantongi PBG, Kinerja DPMPTSP Dipertanyakan
Ia mengatakan hal tersebut saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Huangobutu Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango.
Sidak dilakukan bersama tim dari Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo untuk mengevaluasi kualitas pelayanan MBG, mulai dari menu makanan hingga fasilitas penunjang.
"Seminggu yang lalu dalam dialog interaktif MBG, Badan Gizi Nasional (BGN) Pusat mendorong kreativitas para ahli gizi dalam menyusun menu makanan. Saya berharap di Gorontalo tiap SPPG dapat menyiapkan minimal 30 variasi menu, sehingga ketika berulang di bulan berikutnya, anak-anak tidak merasa bosan. Datang ke sekolah ada yang ditunggu-tunggu, besok makan apa lagi,” kata Idah.
Baca Juga:
PU Rampungkan Dapur MBG di Perbatasan RI–Timor Leste, Perkuat Layanan Gizi Masyarakat
Ketua Satgas MBG ini juga meminta adanya inovasi dalam pengolahan dan penyajian makanan, mulai dari cara memasak hingga tampilan menu.
Menurut dia penyajian yang menarik dapat meningkatkan minat anak untuk mengonsumsi makanan bergizi, terutama sayuran.
“Cara penyajian, cara pengolahan, sampai cara mengiris makanan juga harus menarik. Misalnya wortel dipotong dengan bentuk yang cantik, anak-anak pasti lebih tertarik untuk makan," katanya.
Ia juga mendorong pemanfaatan bahan pangan lokal seperti ikan air tawar hasil budidaya masyarakat.
Bahan pangan lokal dapat diolah menjadi menu yang lebih ramah anak, seperti nugget maupun olahan presto.
Idah bersama tim juga memeriksa Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), serta proses pencucian ompreng atau wadah makanan di SPPG Huangobutu.
Dari hasil peninjauan, IPAL di lokasi tersebut dinilai sudah memenuhi standar.
Sementara proses pencucian ompreng dilakukan menggunakan air yang terus mengalir, baik saat pencucian menggunakan sabun maupun pada tahap pembilasan, untuk memastikan kebersihan wadah makanan tetap terjaga.
“IPAL-nya sudah bagus dan proses pencuciannya juga sudah baik. Tinggal memastikan air terus mengalir saat pencucian dan pembilasan supaya kebersihannya lebih maksimal,” katanya.
SPPG Huangobutu Kabila Bone berada di bawah naungan Yayasan Naluri Nusantara Gemilang yang setiap harinya mengelola sekitar 2.169 porsi MBG.
[Redaktur: Patria Simorangkir]